Anak-Anak Indonesia di Malaysia Belajar Lewat Cerita Bergambar: Upaya Penguatan Literasi oleh Dosen PBSI-UNESA

  • May 06, 2025
  • IMAM ROFI'I


KUALA LUMPUR — Di tengah keterbatasan akses pendidikan formal bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia, upaya penguatan literasi terus dilakukan. Salah satunya melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang, di Sanggar Belajar Klang atau yang dikenal Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia (PPWNI), Malaysia.
Program bertajuk Penguatan dan Pendampingan Membaca bagi Siswa di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) ini mengusung pendekatan pembelajaran kreatif yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Tim pelaksana terdiri atas Abdul Aziz Khoiri, S.Pd., M.Pd., (Universitas Negeri Surabaya), Dr. Moh. Ahsan Shohifur Rizal, M.Pd., dan Dr. Abdul Kholiq, M.Pd.

Ketua tim pengabdian, Abdul Aziz Khoiri, menyampaikan bahwa metode yang digunakan dalam kegiatan ini berfokus pada cerita bergambar, yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan daya pikir kritis siswa.

“Kami menggunakan media cerita bergambar. Anak-anak diminta menyusun gambar sesuai alur cerita, sehingga mereka tidak hanya membaca tetapi juga memahami konteks secara utuh,” ujar Aziz saat dihubungi di Kuala Lumpur.

Namun, ia tidak menampik bahwa proses tersebut dihadapkan pada sejumlah tantangan. Mayoritas siswa di sanggar tersebut merupakan anak-anak dari keluarga pekerja migran yang lebih terbiasa menggunakan bahasa Melayu ketimbang bahasa Indonesia.

“Instruksi kami sampaikan dalam bahasa Melayu agar dapat dipahami dengan baik. Namun, secara bertahap kami tetap mengenalkan dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar,” imbuhnya.

Selain kendala bahasa, fasilitas belajar yang terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Ruang kelas yang sempit, minimnya perlengkapan pembelajaran, serta latar belakang pendidikan para pengajar yang beragam menjadi realitas yang harus dihadapi.

“Sebagian pengajar bukan berasal dari latar belakang pendidikan formal. Ada yang lulusan SMA, namun dedikasi dan komitmen mereka sangat tinggi dalam mendampingi anak-anak belajar,” kata Aziz.

Meski demikian, Aziz menilai bahwa program PKM memiliki peran penting dalam memberikan dukungan literasi dasar dan penguatan pola pikir analitis bagi anak-anak Indonesia di luar negeri. Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu mendapat dukungan sistematis dan keberlanjutan dari berbagai pihak.
 
“Kami berharap program ini tidak hanya bersifat insidental, tetapi menjadi bagian dari gerakan pendidikan jangka panjang bagi anak-anak yang berada di luar negeri, khususnya di Sanggar Belajar Kelang Malaysia” tutupnya.

Penulis: Ikbar Zakariya